
Kompaspemburukeadilan.com
Selain sebagai bukti resmi kualifikasi akademik dan persyaratan administratif untuk pekerjaan, gelar kesarjanaan memiliki makna sebagai pengakuan atas kompetensi, meningkatkan peluang karier dan mobilitas sosial, serta memberikan kepuasan pribadi dan rasa percaya diri bagi individu yang meraihnya. Gelar juga mencerminkan kerja keras dan dedikasi, serta dapat menjadi katalisator perubahan positif bagi individu dan masyarakat.
“Saya sangat bersyukur kepada ALLAH dan berterima kasih kepada orang tua dan semua keluarga atas semua do’a, khususnya mama yang tak pernah merasa jenuh dan lelah serta tertatih-tatih berusaha hingga semua jenjang pendidikan bisa terselesaikan sampai Sarjana,” ungkap Marzha Nabilah Djuhandini, S.H., alumni Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar 2024, yang akrab disapa Asya ini.
Putri dari pasangan Mulyani Hi. Marzuki, S.Sos. (ASN) dan Dr. Muliady M. Djufri, S.S., M.M. (Aktivis/Akademisi) yang juga Pimpinan Umum/Pimpinan Redaksi Media Kompas Pemburu Keadilan (KPK) ini mengungkapkan secara lugas bahwa meraih gelar sarjana bagi seorang anak adalah capaian luar biasa yang sangat membahagiakan dan membanggakan orang tua.
Masih menurut alumni SDN 1 Sawahan Sampit, alumni SMPN 1 Seruyan, yang pernah bersekolah di SMA Negeri 1 Seruyan, Kalteng dan tamat di SMA Negeri 1 Watampulu, Sidrap Sulsel ini, tidak semua orang berkesempatan menyelesaikan pendidikan di setiap jenjang karena rumitnya permasalahan sebagai mahasiswa dan banyaknya cobaan serta terpaan yang kadang datang tanpa diundang. Dari cobaan berat inilah, kadang banyak saudara-saudara kita yang tak sanggup bertahan dan memilih berhenti lalu pulang kampung untuk membuka usaha atau berbisnis sesuai kemampuan masing-masing.
“Bagi kawan-kawan aktivis, hal itu tidaklah merupakan hambatan ketika kuliah tertunda. Karena pada dasarnya seorang aktivis organisasi selalu siap pakai di manapun,” tegas Asya.
Alumni TK Aisyiyah Tolitoli, yang juga pernah bersekolah di SDN Pembina Tolitoli, ini sempat geleng-geleng kepala sambil tersenyum saat ditanya soal banyaknya sekolah di kabupaten dan provinsi berbeda yang pernah ia tempati. Asya mengungkapkan bahwa semua itu karena mengikuti ayahnya yang saat itu ditugaskan sebagai Koordinator Wilayah Nusantara Corruption Watch (NCW) Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan pada 2010.
“Itulah sebabnya, penyanyi cilik yang menggemaskan di masanya ini harus ikut pindah. Karena papa selaku ASN juga ikut pindah dan ditempatkan di Dinas Sosial selaku Kasubag Keuangan. Bagi saya, tidak mungkin tidak ikut pindah ke Kalimantan, sementara saya anak satu-satunya dari mama tersayang,” ungkapnya.
Namun, dirinya kembali bersyukur. “Makin banyak sekolah yang pernah ditempati, makin banyak pula teman dan sahabat di setiap provinsi, serta bisa mengenal adat istiadat dan budaya yang beragam di masing-masing daerah,” jelasnya.
Pada tahun 2016, dirinya ikut pindah bersama ibunya, Mulyani Hi. Marzuki, S.Sos., ke Sulawesi Selatan. Ibunya kemudian mengabdi di Dinas Koperasi dan UKM di salah satu kabupaten provinsi ini. Saat itu pula, Asya melanjutkan pendidikan Strata Satu Hukum di UMI Makassar. Bertepatan pada tahun tersebut, ayahnya, Muliady M. Djufri, dipindahkan sebagai Koordinator Wilayah NCW Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat, berkedudukan di Palu.
“Meski pindah-pindah tempat, apalagi lintas provinsi, itu sangat melelahkan. Tapi bagi saya, semua harus disyukuri. Itu adalah kenangan dan pengalaman sangat berharga bagi perjalanan keluarga, khususnya bagi saya sebagai anak. Dari banyak mengenal karakter dan watak orang yang berbeda-beda, kita bisa menguatkan rasa dan kepekaan sosial dalam diri untuk merespons permasalahan apa pun dan di mana pun secara proporsional. Dengan kata lain, ‘Kita ini basudara’, meskipun berbeda-beda, tapi kita tetap satu Indonesia. Karena itu, kita harus setia pada pribahasa ‘Di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung’,” pungkas wanita kelahiran Makassar, 25 Maret 2000, yang sebelumnya bercita-cita menjadi notaris ini mengakhiri pembicaraan.
(ARD)