OPINI : Renungan Di Penghujung Ramadhan* Oleh : Ustadz Imran Muhammad Djufri SPd,IMPd,I

OPINI : Renungan Di Penghujung Ramadhan* Oleh : Ustadz Imran Muhammad Djufri SPd,IMPd,I

Www.kompaspemburukeadilan.com

Waktu memang terus berputar tidak pernah berhenti, dan Ramadhan adalah saksi betapa cepat ia berlalu. Hari demi hari memang dipergilirkan dan dipergulirkan. Baru saja hati ini bergetar saat takbir pertama menyambutnya, kini tanpa terasa kita sudah berdiri di ambang perpisahan. Seolah-olah ia hanya singgah sebentar, menyapa jiwa, lalu perlahan menghilang meninggalkan jejak yang tak semua orang sempat mengukirnya dengan sempurna.

Malam-malamnya pernah kita isi dengan harap—meski kadang setengah hati. Hari-harinya pernah kita jalani dengan semangat—meski tak selalu penuh kesungguhan. Ada tilawah yang tertunda, belum sempat khatam sekalipun hanya 4x, doa yang terlewat, dan air mata yang belum sempat berjatuhan di hadapan-Nya.

Di titik ini, hati mulai bertanya dengan jujur, berdialog dengan diri sendiri :

Apakah aku benar-benar memanfaatkan Ramadhan ini dengan baik ? Ataukah aku hanya sekadar melewatinya, seperti hari-hari biasa yang lain ?

Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang dan pergi. Muncul dan tenggelam. Ia adalah kesempatan/momentum yang mungkin tidak akan pernah terulang. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, kini hanya tinggal nama dan kenangan. Mereka pun pernah berencana memperbaiki diri “di Ramadhan berikutnya”—namun takdir berkata lain.

Lalu bagaimana dengan kita ??

Jika Ramadhan ini adalah yang terakhir, apakah kita siap ?
Apakah kita sudah cukup meminta ampun ?
Sudahkah hati ini benar-benar kembali kepada Rabb-nya ?
Ataukah kita masih menunda, seolah-olah waktu masih panjang dan kesempatan masih demikian banyak ?

Sisa hari yang ada bukan untuk disesali, tetapi untuk ditebus. Bukan untuk meratapi kekurangan, tetapi untuk memperbaiki yang tersisa.

Maka jangan biarkan ia pergi begitu saja tanpa kesan. Isi detik-detik terakhir ini dengan istighfar yang lebih dalam, dan taubatan nashuha, doa yang lebih tulus, dan harapan yang lebih besar.

Baca Juga  Sutrisno Berpesan Kepada Pendukungnya Sesuai Hati Nurani Dalam Menentukan Pilihan.

Mungkin kita belum menjadi hamba yang sempurna. Namun setidak-tidaknya, kita bisa dan siap menjadi hamba yang kembali.

Angkat tanganmu, bisikkan harapanmu, dan rendahkan hatimu di hadapan-Nya. Sebab di antara sisa-sisa waktu ini, masih terbuka pintu ampunan yang luas, masih ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, dan masih ada Rabb yang tidak pernah lelah menerima hamba-Nya yang kembali.

Jangan tunggu esok. Karena belum tentu esok masih menjadi milik kita.

اللهم إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan. Maka maafkanlah aku atas lalai yang berulang, atas hati yang sering berpaling, dan atas amal yang belum layak Engkau terima.

Semoga Ramadhan ini menjadi saksi—bukan sekadar bahwa kita pernah menjalaninya, tetapi bahwa kita pernah benar-benar kembali kepada-Nya.

Dan jika ini bukan Ramadhan terakhir kita, semoga ia menjadi yang terbaik yang pernah kita miliki. Namun jika ini adalah yang terakhir, semoga ia menjadi yang paling bermakna.
Aamiin.

Penulis Adalah Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Dan Ketua DPW Provinsi Sulawesi Barat 2016.

Alamat Redaksi

Jl. Andi Sammeng lorong pasar Kalola RW/RW : 002/002 Dusun Awotarae Desa, Kalola Kecamatan. Maningpajo Kabupaten Wajo.Provinsi Sulawesi Selatan Kode Pos: 90952

Kontak person
Redaksi@kompaspemburukeadilan.com
0852-5551-4777

Copyright © 2023 Kompaspemburukeadilan.com