Di Bawah Satu Merah Putih — Rakyat Berdiri di Terik, Penguasa Berteduh Oleh: Aktivis Berau

Di Bawah Satu Merah Putih — Rakyat Berdiri di Terik, Penguasa Berteduh Oleh: Aktivis Berau

Berau kaltim kompaspemburukeadilan.com  Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya menjadi momen kebersamaan — satu rasa, satu semangat, satu perjuangan. Namun pemandangan di lapangan upacara memperlihatkan realitas yang berbicara lain.

Ribuan rakyat, dari berbagai elemen masyarakat, berdiri tegak dalam barisan di bawah terik matahari yang membakar. Keringat membasahi seragam, wajah-wajah berusaha tetap tegak menghadap bendera. Mereka bertahan bukan karena nyaman, melainkan karena merasa ini momen yang patut dihormati.

Sementara itu, tidak jauh dari sana, sekelompok pejabat duduk nyaman di bawah panggung yang teduh. Atap melindungi dari panas, tempat duduk tertata rapi, air minum tersedia. Secara fisik jaraknya mungkin hanya puluhan meter. Namun jarak yang sesungguhnya terasa jauh lebih lebar — jarak kenyamanan, jarak pengalaman, jarak perhatian.

Pemandangan ini menyampaikan pesan yang begitu tajam: “Begitulah jarak antara rakyat dan kekuasaan.”

Ini bukan sekadar soal panas atau tidaknya matahari. Ini tentang hak istimewa dan beban yang berbeda. Ketika rakyat menanggung seluruh ketidaknyamanan demi menghormati negara, mereka yang memegang tampuk kekuasaan justru terlindungi dari setiap beban yang biasa dirasakan warga.

Sebuah refleksi yang memukau sekaligus memprihatinkan. Di bawah bendera Merah Putih yang sama, ada yang berdiri di bawah terik dan ada yang duduk berteduh. Apakah ini sekadar protokol acara, atau memang sudah menjadi budaya bahwa penguasa harus selalu ditempatkan di posisi paling nyaman, terpisah dari rakyat yang mereka pimpin?

Kata “melayani” seharusnya berarti berada di tengah-tengah, bukan di panggung yang menjauhkan. Kata “bersama” seharusnya terasa sama — sama panas, sama berdiri, sama menghormati. Bukan satu pihak menanggung beban sendirian sementara pihak lain menikmati kesejukan yang dibayar dari keringat rakyat.

Pertanyaan ini kembali menggema di tengah terik matahari kemerdekaan: Apakah kita sudah benar-benar dekat, atau justru semakin jauh?

Jika jarak fisik saja sudah sedemikian rupa dibangun, bagaimana dengan jarak pemahaman? Apakah kebijakan yang diambil di bawah atap teduh itu benar-benar memahami rasa panas yang dirasakan rakyat di lapangan?

Kekuasaan bukan untuk berteduh, tapi untuk meneduhkan. Bukan menjauhkan diri dari kesulitan rakyat, melainkan ikut merasakannya agar tahu bagaimana cara mengatasinya.

Selamat Hari Kemerdekaan. Semoga kemerdekaan ini bukan hanya dirayakan di atas panggung, tapi juga dirasakan secara adil di setiap barisan rakyat.
*kpk kaltim

Alamat Redaksi

Jl. Andi Sammeng lorong pasar Kalola RW/RW : 002/002 Dusun Awotarae Desa, Kalola Kecamatan. Maningpajo Kabupaten Wajo.Provinsi Sulawesi Selatan Kode Pos: 90952

Kontak person
Redaksi@kompaspemburukeadilan.com
0852-5551-4777

Copyright © 2023 Kompaspemburukeadilan.com