
Kompaspemburukeadilan.com
Senja Begitu indah ketika kita berada di sebuah Tempat yang kita Impikan ya itu lah saya Si Beriun dari pojok kota Kutai Timur Dari sejak Kecil kaki ini berjalan ke sana ke sini mengelilingi Daerah yang katanya indah Elok di pandang Jutaan penduduk itu Hari -Hari pun berlalu senja yang begitu indah di tambah kicauan burung yang yang ku nikmat kala itu Tapi semua itu bagikan Anak kecil yang menangis meminta Asih ke seorang ibu Ya itulah mungkin kata -kata yang bisa dinobatkan kala itu.
Denyut nadiku dan suara getar seperti soud horeg yang di stel tidak sesuai Ekspektasi , Hari -Hari Begitu berlalu Kicaun burung-burung yang dulu ku dengar indah kini beruba menjadi suara yang mengartikan Mereka tengah berada di Dentuman katanya mereka yang ingin membangun itu, Dari sejak kecil ku lalui jalan yang indah itu kini semua sampai sekarang jalan itu masih berwana merah kira-kira aspal mana yang kalian temukan di Indonesia saya si Beriun melihat bahwa potensi besar bisa kita memiiliki bumi yang Kaya tapi kekayaan itu kian di gerus oleh Mereka yang kata membangun.
Suara Uak-uak yang dulu ku dengar ketika hujan Hampir Turun kini semua itu bagaikan Dongeng yang di ceritakan orang tua Alam Mulai di gerus dengan Ekskavator yang Dulu jadi mainan kami anak -anak Ketika itu kini ekskavator itu menjadi wujud nyata dalam kehidupan kami sampai kapan kita menjadi orang Buta Yang harus tunggu Nabi Isal Al-Masih yang datang menyembuhkan Kebutaan kita ini, Alam Mulai di gerus Kesejateraan masyarakat hanyalah omong kosong bagi mereka yang punya dalil katanya membangun.
Infrastruktur yang terbelakangkan yang membuat kami harus berjuang Ketika sakit kami harus berjuang dari Alam kami menuju kota yang katanya Punya penghasilan Besar yang membuat orang berbondong-bondong mendatangi kota itu, Lahan Coklat yang dulu Penghasilan begitu besar di liput media sana-sini akan Hilang secara perlahan lahan dengan dalil katanya mereka yang ingin Rakyatnya sejaterah.
Jangan Melihat Nilai merah dan biru yang keluar dari dompet mereka tapi pikirkan berapa tahun yang akan datang Demi Anak Cucu kita Bersama Yang Merah dan Biru di nikmati sekarang Berapa tahun akan datang anak cucumu akan menjadi penonton drama Indosiar secara real, seruan Anak Putra Beriun yang jauh dari Gelap dan terangnya kota dengan lampu – lampu diskotik dan Remang -Remang, Siapa pun Aku, aku bersama kalian Demi Beriun Tercinta.