
MELAWI, KALBAR – Kompaspemburukeadilan.com-Kondisi bangunan Embung Bayur Raya, Kecamatan Pinoh Selatan, Kabupaten Melawi saat ini sangat memprihatinkan. Bangunan yang seharusnya menjadi penyelamat warga di musim kemarau tersebut justru tidak berfungsi akibat mengalami kebocoran.
Pantauan di lapangan, embung tersebut tidak bisa menampung air. Air yang masuk langsung hilang akibat dinding dan dasar embung yang bocor. Padahal, di tengah musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Melawi saat ini, keberadaan embung sangat diharapkan untuk kebutuhan air bersih, pertanian dan ternak warga.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, bangunan Embung Bayur Raya tersebut dibangun secara bertahap pada tahun *2014, 2016 dan 2018* yang bersumber dari *APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat [PUPR], Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Kalimantan I Pontianak*.
Dengan tiga kali penganggaran, total anggaran yang dihabiskan untuk pembangunan embung ini diduga mencapai miliaran rupiah. Namun hasilnya, bangunan tersebut kini mangkrak dan tidak memberikan manfaat bagi masyarakat.
*Kades: Kami Ingin Kelola, Tapi Belum Serah Terima Aset*
Kepala Desa Bayur Raya saat dikonfirmasi awak media membenarkan kondisi tersebut.
“Sebetulnya kami berharap adanya fasilitas bangunan tersebut bisa dimanfaatkan oleh warga setempat, namun apa boleh buat kondisinya sudah seperti itu,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pihak desa belum bisa melakukan perbaikan secara swadaya karena terkendala status aset.
“Sementara kami di desa belum bisa untuk mengelola dikarenakan belum ada serah terima aset,” ucapnya.
Kepala Desa berharap Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR, Ditjen SDA Balai Wilayah Sungai Kalimantan I Pontianak dapat kembali menganggarkan biaya perbaikan dan pemeliharaan.
“Kami berharap kepada pemerintah pusat agar bisa menganggarkan kembali untuk biaya perbaikan dan pemeliharaan embung ini, kasihan warga kami kalau kemarau seperti ini tidak ada tampungan air,” harapnya.
*Mubazir dan Berpotensi Rugikan Negara*
Kondisi ini menjadi ironi. Di saat warga menjerit kekurangan air bersih akibat kemarau dan harga kebutuhan pokok naik, bangunan miliaran rupiah dari uang negara justru terbengkalai.
Publik mempertanyakan kualitas pekerjaan dan perencanaan dari embung tersebut. Dibangun tiga tahun anggaran namun tidak bertahan lama dan mengalami kebocoran permanen.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak BWS Kalimantan I Pontianak selaku pemilik pekerjaan belum berhasil dikonfirmasi.
*[Tim Redaksi]*