
Banjarmasin, kompaspemburukeadilan.com – Berjarak sekitar 56 km dari Marabahan, ibukota Kabupaten Barito Kuala, Kecamatan Kuripan menjadi salah satu dari beberapa kecamatan yang penduduknya masih didominasi pengguna bahasa Bakumpai. Hal tersebut disampaikan koordinator Hapakat, Rusdiansyah, dalam pertemuan Hapakat di salah satu hotel berbintang kota Banjarmasin, Jumat (23/1).
“Penduduk luar akan segera bisa berbahasa Bakumpai disebabkan pergaulan sehari-hari dengan orang-orang kecamatan Kuripan” beber Rusdiansyah.
Namun, koordinator Hapakat ini juga menyayangkan penggunaan bahasa Bakumpai di Marabahan, ibukota Kabupaten Barito Kuala semakin berkurang bahkan oleh generasi tua.
Rusdiansyah menganggap orang mulai malu berbahasa Bakumpai “Dalam situasi non-formal, ada pejabat dari kalangan orang Bakumpai justru berbicara bukan bahasa Bakumpai, di saat saya memulai pembicaraan berbahasa Bakumpai. Padahal sangat diketahui bahwa orang tersebut adalah orang suku Bakumpai tulen!”
*Melindungi Bahasa Bakumpai*
Klaim Rusdiansyah mendukung pendapat kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan, Armiati Rasyid, “Berdasarkan Unesco, ada 7600 bahasa di dunia. Lalu setiap satu bahasa di dunia mengalami kepunahan setiap dua minggu”.
Bahasa Bakumpai mengalami persoalan karena penuturnya menyusut sehingga berstatus rentan. “Ketika bahasa daerah itu masih dipakai oleh semua anak dan semua orang etnik itu sendiri berarti aman. Berdasarkan survei kami, bahasa Bakumpai dalam tataran rentan. Anak-anak penutur bahasa Bakumpai sudah jarang menggunakan bahasa Bakumpai,” paparnya Armiati Rasyid yang tampil bersama Tim Perlindungan Bahasa dan Sastra, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan.
Kabar baiknya, sebagaimana disampaikan Bahasa Bakumpai adalah salah satu dari 10 bahasa daerah yang diakui pemerintah di Kalimantan Selatan, atau termasuk 718 bahasa daerah yang diakui di Indonesia. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan, sejak tahun 2023 telah melakukan berbagai kegiatan revitalisasi Bahasa Bakumpai di kabupaten Barito Kuala.
Selain itu, menurutnya kegiatan yang dilakukan Hapakat mengusung tema “Keberadaan Bahasa Bakumpai: Dari Hulu (Bi Ngaju) sampai Hilir (Ngawa)” tepat karena dinaungi payung hukum untuk pelestarian bahasa daerah. Mulai dari UUD 1945 Pasal 32 ayat (2), hingga Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014.
*Bahasa Bakumpai Punah?*
Acara ini juga mengundang linguis dari Universitas Palangkaraya, Iwan Fauzi yang menyelesaikan magister linguistik di Radboud University, Belanda, dalam paparan berbahasa Bakumpai menyatakan Dalam konteks Barito Kuala, Bahasa Bakumpai yang lahir di Marabahan, berpotensi mengalami masalah karena bandar dagangnya sudah tidak ada lagi.
“Bakumpai termasuk kategori bahasa creol dan berkaca pada era Samudera Pasai, bahasa creol cenderung menghilang bersamaan hilangnya bandar dagang itu sendiri” tuturnya.
Penelusuran berbagai sumber on line, bahasa kreol merupakan bahasa campuran melalui kontak sederhana seperti perdagangan dari berbagai penutur dan kemudian menjadi bahasa ibu.
*Legislator dan Akademisi Prihatin*
Dalam kesempatan yang sama, kondisi pengguna bahasa Bakumpai di Batola yang hanya dominan pada tiga kecamatan sebagaimana paparan Rusdiansyah, menjadi keprihatinan legislator Murung Raya, kelahiran Basahab Marabahan, H. Johansyah.
“Kondisi ini tidak terjadi di kawasan kabupaten Murung Raya. Bahasa Bakumpai masih dominan digunakan. Dari 10 kecamatan dalam wilayah Murung Raya, hanya satu kecamatan yang tidak menggunakan bahasa Bakumpai yakni kecamatan Tanah Siang” tutur legislator dari Partai Persatuan Pembangunan ini.
Dominasi bahasa Bakumpai di Murung Raya, dapat terlihat penggunaan bahasa Bakumpai hingga di kota Puruk Cahu. “Bahkan percakapan perkantoran pemerintahan, kantor DPRD, orang menggunakan bahasa Bakumpai, selain juga bahasa Ngaju” terang H. Johansyah.
Di hadapan peserta dengan beragam latar belakang seperti akademisi, aktivis, birokrat, guru, jurnalis hingga ormas kebakumpaian, H. Johansyah menyatakan dukungan sepenuhnya agar bahasa Bakumpai kuat di sepanjang DAS Barito dari Murung Raya hingga Batola.
Di tengah keprihatinan tersebut, Aulia Novitasari yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan harapan. “Orang tua secara intensif mempraktikkan bahasa Bakumpai dalam keluarga khususnya kalangan anak-anak. Hal ini dilakukan, agar bahasa Bakumpai tetap lestari,” tutur Novitasari, akademisi dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP ULM asal Marabahan.
Kegiatan Hapakat bagian akhir, mendaulat Rizali Hadi, Guru Besar dan intelektual Bakumpai dari Tumbang Samba yang menetap di Banjarmasin memberikan refleksi ke-Bakumpai-an dalam bahasa Bakumpai. Menurutnya, problem bahasa Bakumpai tidak diajarkan di kalangan anak-anak. Selain itu, Bakumpai keseharian yang saling dipengaruhi bahasa setempat, seperti bahasa Bakumpai di Tumbang Samba dipengaruhi bahasa Ngaju dan bahasa Ut.
“Dalam pergaulan sehari-hari, sebenarnya biasa saja kita menunjukkan identitas diri berbahasa Bakumpai. Lihat saja, orang Batak bangga berbahasa Batak” tegas Rizali Hadi.
Rizali Hadi menampilkan beberapa kata Bakumpai yang populer dalam keseharian diucapkan dalam keluarga seperti “kuman” (makan), “mandui” (mandi), “tahi” (lama) agar mudah mengingat bahasa Bakumpai dalam keluarga di perkotaan.
Sebagai akademisi dan juga sesepuh Bakumpai, Rizali Hadi menampikan anekdot dalam kehidupan sosial orang Bakumpai seperti “uras ji handak,” (serba ingin semua), “balecak,” (sok) “Batekang mentong” (keras sekali) yang mengundang gelak tawa peserta.
*Sekilas tentang Hapakat*
Hapakat sebagai wadah diskusi merawat ke-Bakumpai-an kali ini, selain fokus membahas keberadaan Bahasa Bakumpai juga disertai suasana hening ketika Rusdiansyah dan Nasrullah mengajak peserta membacakan al Fatihah yang dihadiahkan kepada almarhum: Adenansi salah satu pendiri Hapakat, Didi Gunawan, Redaktur salah satu media di Kalimantan Seatan yang konsisten meliput Hapakat dan Amir Mahmud mantan wakil rakyat Batola dan peserta Hapakat.
Pegiat sekaligus inisiator Hapakat terdiri atas kalangan akademisi Nasrullah, Jamaluddin aktivis sosial , kalangan Jurnalis Pahri Rahman dan sekaligus Indra Gunawan, serta dari kalangan Pendidik yakni Rafiqorrahman. Hapakat ini sendiri telah menggelar sebanyak tujuh kali pertemuan sejak 18 Desember 2019.
SR. Dayak_kpk