
www.kompaspemburukeadilan.com
Dalam dinamika menjelang suksesi kepemimpinan Nahdlatul Ulama cukup kaya dengan calon ketua umum karena begitu banyak kader dan para kiyai yang dimilik dengan latar belakang potensi dan pengalaman yang luar biasa, diruang publik-terutama media digital-mulai memunculkan sejumlah nama yang dinilai memiliki kapasitas, legitimasi struktural, serta rekam jejak ke-NU-an yang kuat untuk dipertimbangkan sebagai kandidat Ketua Umum PBNU.
Setidaknya terdapat enam figur yang kerap disebut oleh netizen dan pengamat, dengan latar belakang kepemimpinan yang beragam.
KH. Yahya Cholil Staquf, sebagai Ketua Umum PBNU periode 2022–sekarang, merepresentasikan kesinambungan kepemimpinan nasional NU dengan pendekatan diplomatik, intelektual, dan jejaring global. Pengalamannya di tingkat internasional memperkuat posisi NU dalam diskursus keislaman dunia.
KH. Syaifullah Yusuf, M.Si., Sekretaris Jenderal PBNU 2022 – sekarang, memiliki keunggulan pada aspek manajerial dan tata kelola organisasi, diperkuat oleh pengalaman panjang dalam pemerintahan, mulai dari eksekutif daerah hingga jabatan menteri. Kombinasi pengalaman struktural NU dan birokrasi negara menjadikannya figur teknokrat-organisatoris yang matang.
DR. KH. Marzuki Mustamar, MA., mantan Ketua PWNU Jawa Timur (2018–2023), dikenal sebagai representasi ulama pesantren dengan basis kultural yang kuat. Kepemimpinannya di wilayah NU terbesar secara demografis memberi bobot strategis dalam peta kekuatan internal jam’iyyah.
DR. KH. Abdul Ghaffar Rozin, M.Ed., Ketua Umum Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU sejak 2013 dan Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029, menunjukkan konsistensi dalam penguatan sektor pendidikan dan pesantren. Peran lintas kementerian sebagai staf khusus memperlihatkan kapasitas koordinatif antara NU dan negara.
KH. Abdussalam Sohib, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, merepresentasikan kesinambungan tradisi pesantren salaf dengan struktur organisasi PBNU. Posisi ini strategis dalam menjaga keseimbangan antara otoritas kultural dan administratif.
KH. Hudalloh Ridwan Naim, Lc., MA., Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah, mencerminkan figur ulama struktural yang kuat di wilayah syuriyah. Latar belakang keilmuan dan peran dalam otoritas keagamaan memberi dimensi normatif–teologis dalam kepemimpinan NU.
Secara keseluruhan, kemunculan nama-nama tersebut mencerminkan pluralitas model kepemimpinan NU: antara kontinuitas dan regenerasi, antara kultural pesantren dan manajerial modern, serta antara otoritas keilmuan dan pengalaman birokrasi.
Penyebutan nama-nama tersebut sejatinya bukan untuk dipertentangkan, melainkan sebagai ikhtiar membaca khazanah kader terbaik NU. Pada akhirnya, jam’iyyah akan menitipkan amanah kepada sosok yang paling maslahat, melalui mekanisme musyawarah yang beradab, tawadhu’, dan penuh barakah.(Red)