
Makassar Sulsel Kompas Pemburu Keadilan, – Sejarah pendidikan tinggi Islam di Indonesia takkan lengkap tanpa menyebut nama Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah Amir. Beliau bukan hanya seorang akademisi, melainkan sosok pendobrak tradisi yang membuktikan bahwa kepemimpinan intelektual tak mengenal batas gender.
Sebagai perempuan pertama yang memimpin Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia, jejak langkahnya di UIN Alauddin Makassar menjadi inspirasi abadi bagi kaum perempuan di seluruh pelosok negeri.
Putri Bulukumba yang Menaklukkan Tantangan
Lahir di Bulukumba, 8 September 1935, Rasdiyanah tumbuh dalam asuhan keluarga bangsawan yang sangat mementingkan pendidikan. Meski harus kehilangan ayah sejak bayi, semangat belajarnya tak pernah padam.
Perjalanannya menuntut ilmu membawanya merantau dari madrasah di Sulawesi hingga ke Yogyakarta. Di IAIN Sunan Kalijaga, ia tak hanya menimba ilmu Ushuluddin, tapi juga mengasah jiwa kepemimpinannya melalui organisasi Aisyiyah. Puncaknya, ia berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1982—sebuah pencapaian langka bagi perempuan di masa itu.
Melawan Stigma: Menjadi Rektor di Tengah Kontroversi
Karier Rasdiyanah di IAIN Alauddin (kini UIN) dipenuhi dengan dedikasi. Namun, jalan menuju kursi rektor tidaklah mulus. Saat namanya mencuat sebagai kandidat kuat, ia sempat diterjang badai skeptisisme.
Pada akhir era 70-an, beberapa pihak, termasuk otoritas daerah, meragukan kemampuan seorang perempuan dalam memimpin mahasiswa. Namun, dukungan mengalir deras dari tokoh-tokoh progresif, termasuk Muhammadiyah, yang menegaskan bahwa Sulawesi Selatan memiliki sejarah panjang pemimpin perempuan hebat.
Kebenaran akhirnya menemukan jalannya. Pada 1 Juni 1985, ia resmi dilantik sebagai Rektor IAIN Alauddin. Momen ini menjadi catatan sejarah: Rasdiyanah adalah rektor perempuan pertama di wilayah timur Indonesia sekaligus perempuan pertama yang memimpin lembaga pendidikan tinggi Islam di tanah air.
Pengabdian Nasional dan Warisan Abadi
Kepiawaian Rasdiyanah menarik perhatian pemerintah pusat. Sebelum masa jabatannya sebagai rektor berakhir, ia ditarik ke Jakarta untuk menjabat sebagai Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam di Departemen Agama (1993–1996).
Di sana, ia menjadi salah satu aktor penting di balik penerapan program wajib belajar sembilan tahun di lingkungan madrasah dan pesantren. Baginya, pendidikan agama dan pendidikan umum harus berjalan beriringan untuk mencetak generasi unggul.
Hingga masa senjanya, ia tetap memilih untuk mengabdi di dunia akademik sebagai guru besar dan memimpin program pascasarjana. Kecintaannya pada ilmu hadis dan dedikasinya pada universitas tak pernah luntur.
Akhir Perjalanan Sang Pejuang
Dunia pendidikan Indonesia berduka ketika sang pionir mengembuskan napas terakhirnya pada 19 Januari 2023 di Makassar dalam usia 87 tahun. Beliau meninggalkan warisan berupa keberanian, integritas, dan bukti nyata bahwa perempuan mampu memimpin dengan hati dan logika.
Kisah Andi Rasdiyanah adalah pengingat bahwa takhta kepemimpinan bukan soal laki-laki atau perempuan, melainkan soal kapasitas, dedikasi, dan kemanfaatan bagi umat. (Wikipedia/Red)