
Kompaspemburukeadilan.com
Di banyak tempat di Indonesia, peringatan Hari Kemerdekaan selalu diwarnai gegap gempita: bendera merah putih berkibar dimana-mana, lomba rakyat, hingga pidato penuh semangat menandakan arti merdeka. Namun di Pocoleok, sebuah desa kecil yang kini menjadi sorotan karena proyek geotermal yang menjadi perlawanan masyarakat, kini bendera itu justru dikibarkan setengah tiang. Sebuah tanda yang sarat makna, mengirimkan pesan senyap tapi lantang: kemerdekaan bagi rakyat belum sepenuhnya hadir.
Bendera setengah tiang lazimnya dikibarkan untuk mengenang duka, kehilangan, atau tragedi. Namun di Pocoleok, Bendera kini menjadi simbol perlawanan—tanda bahwa masyarakat masih merasa terjajah, bukan oleh bangsa asing, melainkan oleh kebijakan negara yang mengabaikan suara rakyat.
Proyek geotermal yang digadang-gadang sebagai solusi energi hijau justru dipandang sebagai ancaman bagi tanah kelahiran, sumber air, dan ruang hidup masyarakat. Bagi warga Pocoleok, tanah bukan sekadar hamparan ekonomi, melainkan tubuh dan jiwa yang diwariskan leluhur. Ketika tanah itu dipertaruhkan atas nama investasi, maka di situlah luka kolektif mulai terbuka.
Ironisnya, perlawanan rakyat sering dipandang sebagai penghambat pembangunan. Mereka yang menjaga tanah leluhurnya dilabeli anti-kemajuan. Padahal, tidakkah kemerdekaan yang sejati berarti kebebasan rakyat untuk menentukan masa depannya sendiri.
Hari kemerdekaan seharusnya menjadi hari syukur atas kebebasan. Namun di Pocoleok, ia justru menjadi hari refleksi: bahwa kemerdekaan belum selesai, perjuangan belum usai. Selama suara rakyat belum didengar, selama tanah dan air masih terancam oleh kerasukan maka bendera itu akan tetap berada di posisi setengah tiang—tanda bahwa kemerdekaan di Pocoleok masih tertunda.
Beda belan