
Palu, Sulawesi Tengah – Kompaspemburukeadilan.com
Peringatan milad (hari lahir) memiliki makna dan pentingnya yang mendalam, baik dalam konteks individu maupun organisasi. Secara umum, milad adalah momentum untuk bersyukur dan melakukan introspeksi diri.
Hal inilah yang kemudian dilaksanakan oleh Alkhairaat sebagai lembaga pendidikan dan organisasi Islam terbesar di kawasan timur Indonesia, yang memperingati Milad ke-98 mulai tanggal 26 hingga 28 September 2025 dengan tema “Berhikmad untuk Bangsa.”
Acara yang dihadiri Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hapid, M.Si., tersebut dirangkaikan dengan berbagai kegiatan, di antaranya:
1. Pasar murah dan pembagian sembako.
2. Festival Seni Budaya Islam.
3. Kajian Kitab Kuning.
4. Konser Musik Religi Cahaya Nusantara.
5. Festival Kuliner Tradisional Kaili dan Sajian Timur Tengah.
6. Tabligh Akbar Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
7. Zikir dan doa bersama peringatan bencana Palu.
Dalam sambutannya, Gubernur Sulteng menegaskan bahwa Alkhairaat telah menorehkan sejarah emas dalam membangun peradaban Islam yang penuh kasih sayang, cinta damai, dan moderasi. Perjalanan 98 tahun Alkhairaat, menurutnya, bukanlah waktu yang singkat. Dari hampir satu abad perjalanannya, Alkhairaat telah melahirkan ribuan ulama, pendidik, dan pemimpin bangsa.
Ia hadir tidak hanya sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai gerakan moral dan sosial yang menanamkan nilai keislaman moderat, keislaman yang kuat, serta akhlak mulia sebagai pondasi generasi penerus bangsa.
Masih dalam sambutannya, gubernur menyatakan bahwa Alkhairaat telah membuktikan dirinya sebagai benteng ilmu pengetahuan dan iman dari Palu dan dari bumi Sulawesi Tengah. Sinar keilmuan Alkhairaat telah memancar ke penjuru Indonesia, menjangkau generasi demi generasi, dari madrasah hingga perguruan tinggi, dari pesantren hingga amal usaha di bidang sosial dan kemanusiaan.
Kiprah Alkhairaat menjadi kebutuhan masyarakat serta mitra pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa dan menanamkan nilai religius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semua itu adalah awal dari perjuangan ikhlas tanpa henti Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, atau yang dikenal dengan sapaan Guru Tua, sebagai pendiri Alkhairaat.
Sementara itu, Ketua Utama Alkhairaat, Habib Sayyid Alwi Saggaf Aljufri, Lc., M.A., dalam arahannya pada acara milad tersebut menyampaikan bahwa manusia pada fitrahnya mencintai tiga hal, dan ketiganya ada pada Baginda Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah keindahan. Tidak ada manusia yang tidak suka melihat keindahan, karena keindahan itu menenangkan batin.
Kita yakin Allah SWT tidak menciptakan makhluk yang melebihi kesempurnaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Ia manusia yang paling sempurna akhlak dan rupanya. Timbul pertanyaan, bagaimana jika Rasulullah disandingkan dengan Nabi Yusuf a.s., yang dalam Al-Qur’an disebutkan memiliki setengah keindahan rupa manusia? Dalam sebuah hadis, dijelaskan bahwa ketika Allah SWT memberikan keindahan kepada Nabi Yusuf hanya setengahnya, maka saat memberikan keindahan pada Rasulullah Muhammad SAW, Allah memberikan kesempurnaannya.
Intinya, dalam amanatnya, Ketua Utama Alwi Aljufri mengajak para tamu undangan untuk merenungkan sosok Nabi Muhammad SAW yang amat agung. Kemuliaan beliau tidak lahir dari fanatisme buta, tidak pula dari kedudukan, nasab, harta, maupun banyaknya pengikut. Kemuliaan dan kebesaran beliau terlahir dari kepribadiannya yang luhur dan hatinya yang sangat mulia.
Acara ini selain dihadiri Gubernur Sulteng dan Forkopimda Sulteng, juga dihadiri Ketua Umum PB Alkhairaat, Muhsen Al Idrus; Sekjen PB Alkhairaat, Jamaludin Mariajang; Ketua Pengurus Besar Alkhairaat, Prof. Dr. H. Saggaf Pettalongi; Ketua Yayasan Alkhairaat, Dr. H. Hamdan H. Rampadio, S.H., M.H.; Rektor Universitas Alkhairaat, Dr. Muhammad Yasin, S.E., M.P.; Ketua Majelis Organisasi PB Alkhairaat, Drs. H. Husain Lationo; serta tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan tokoh adat. Ribuan tamu undangan dipastikan hadir.
(Husain Lationo/Muliady Djufri melaporkan dari Palu, Sulawesi Tengah)