OPINI Otoritas Agama dan Sastra

www. Kompas Pemburu Keadilan 

Baik sastra maupun agama, keduanya merupakan bidang kehidupan manusia yang bersifat rohaniah. Bedanya, yang pertama (sastra) menyajikan pengalaman Imajinasi, sedangkan yang kedua (agama), menuntut pengalaman yang kreatif dan konsisten (istiqomah). Pada dasarnya hasil yang dituju nya dalam beberapa hal sama, yakni kekayaan rohaniah, kekayaan batin yang mutlak diperlukan dalam menggumuli hidup dan kehidupan ini.

 

Sastra dapat dikaji dan didekati dengan sejumlah disiplin, termasuk di dalam nya agama. Yang patut dicatat adalah pembicaraan seorang peminat sastra dan bukan titik tolak seorang ahli agama. Jika ditelusuri dengan teliti perkembangan agama dan Seni dari dahulu hingga sekarang akan nampak gambaran yang menunjukkan terjadinya pergeseran-pergeseran posisi kedua bidang kehidupan ini. Agama pada masa silam merupakan sumber inspirasi dan tujuan segenap kegiatan manusia.

 

Konsekuensinya, seni pun menjadi bagian dari aktivitas keagamaan itu. Seni hilang dalam otoritas agama dan melebar jadi bentuk pertanyaan sikap keagamaan itu sendiri. Dengan sendirinya, sastra sebagai salah satu bentuk pengucapan seni tentu saja ikut larut menjadi salah satu unsur kesinambungan suatu ucapan keagamaan dan kegiatan yang berbau keagamaan lainnya seibarat dengan satu “episode” dari suatu cerita.

 

Pengertian sastra di sini tentu saja mencakup upaya manusia merekam metodologi dewa-dewa yang kemudian menjadi bahan suatu tragedi yang dipentaskan dalam rangka upacara keagamaan: dan juga mewujudkan dalam bentuk puisi purba yang dikenal dengan mantra. Mantra ini diucapkan dalam suatu pernyataan keagamaan maupun untuk tujuan magis. Akan tetapi keadaan hubungan agama dan sastra seperti zaman silam itu tidak berlanjut. Perubahan zaman senantiasa diikuti oleh perubahan cara berpikir dan sikap hidup manusia.

 

Ada dua arus perkembangan yang merupakan kedua bidang kehidupan manusia itu: humanisasi agama dan sekularisasi seni. Arus pertama menghilangkan otoritas agama terhadap segenap kegiatan kreatif manusia. Sedang arus kedua menghapus predikat sakral dari kegiatan seni.

Humanisasi agama pada dasarnya mengembalikan fungsi agama pada kodrat nya, yaitu “memanusiakan manusia” Dalam arti, agama itu diperuntukkan bagi kesejahteraan manusia itu sendiri.

 

Kesenian bukan lagi sebagai pernyataan kolektif untuk kebutuhan suatu pemujaan kepada keagamaan atau adat istiadat tetapi kesenian telah berdiri sendiri, di mana pernyataan satu individu penciptanya yang tampil kedepan, sebagai ekspresi pernyataan manusia dalam kehidupan ini.

Maka agama dan seni kemudian menjadi dua “dunia” yang masing-masing mempunyai otoritas sendiri -sendiri. Akan tetapi harus diakui bahwa dua “dunia” itu tidak dapat mengelak dari Perhubungan antara keduanya, karena baik agama maupun sastra menyangkut kehidupan manusia. Perhubungan inilah yang dapat dijadikan titik tolak membicarakan sastra dan agama dalam kerangka telaah ekstrinsik sastra.un

Alamat Redaksi

Jl. Andi Sammeng lorong pasar Kalola RW/RW : 002/002 Dusun Awotarae Desa, Kalola Kecamatan. Maningpajo Kabupaten Wajo.Provinsi Sulawesi Selatan Kode Pos: 90952

Kontak person
Redaksi@kompaspemburukeadilan.com
0852-5551-4777

Copyright © 2023 Kompaspemburukeadilan.com