KESENIAN TRADISI DALAM TARIKAN MODERNITAS Opini: Mas’amah Mufti

KESENIAN TRADISI DALAM TARIKAN MODERNITAS Opini: Mas’amah Mufti

Kompaspemburukeadilan.com

Dari satu sisi, berbicara mengenai “Kesenian Tradisi” itu sesungguhnya agak membosankan, jika itu untuk membedakannya (dan apa lagi mempertahankannya) dengan kesenian yg bukan tradisi, yang kontemporer, yang moderen atau yang dari luar. Kita akan merasa bosan, karena telah terlalu banyak mendengar ungkapan dari dan imbauan yang latah, bahwa pentingnya mempertahankannya bukan tradisi itu. Karena ia sebagai wsrisan leluhur, bernilai luhur, jati diri bangsa, untuk memperteguh tameng diri pengaruh budaya asing yang merusak, dan sebagainya. Tanpa memberi uraian dimana nilainya, sebagamana leluhurnya dan apa itu jati diri. Setiap bicara mengenai kesenian tradisi, munculnya frasa-frasa tak jelas seperti itu seolah akan mudah diprediksi.

Akan tetapi, jika kita mbicarakannya Dalam konteks pertumbuhan, sebuah proses kehidupan yang wajar, barangkali bisa saja menarik, karena setiap saat, setiap periode waktu, kita melihat beberapa persoalan atau tantangan yang dihadapi, baik itu dalam konteks “lokal” maupun Nasional. Menariknya, dan relevansinya adalah karena tantangan ini disetiap saat berbeda-beda, yang akan memberikan tawaran atau godaan yang berbeda.

Untuk membicarakan budaya tradisional kit secara umum sangatlah kompleks, karena kita sendiri tidak lagi hidup hanya dalam satu paradaigma tradisi. Dengan demikian, persoalan atau krisis budaya tradisional sudah tidak bisa lagi hanya dengan melihat konteks tradisionalnya saja, tetapi harus memperlihatkan paradigma lain yang terkait, satu misalnya, krisis nasional kita sekarang ini adalah hal diluar paradigma tradisi (lokal) dan penyebabnya pun jelas bukan dari budaya dalam. Lokal-lokal itu hanya menderita dampaknya.

Modernisasiatau perubahan itu sendiri adalah sebuah tantangan (gangguan sekaligus sokongan) yang perlu dihadapi, disikapi secara bijak, karena ia adalah sebuah kemestian yang tidak bisa diingkari. Jika kita percaya, bahwa kebudayaann itu berubah pula. Karena itu pandangan dikotomis yang seolah mempertentangkan secara jelas antara dunia kesenian tradisional dan kesnian modern, kiranya tidaklah selalu relevan, kadang kita melihat ibaratnya seperti antara siang dan malam. Dua dunia yang secara jelas sangat berbeda, tapi jika kita ingin mengenali batasnya yang pasti sangat relatif.

Jika semua kesenia, semua kebudayaan itu berubah, berarti dalam kesenian tradisi itu selalu terjadi perubahan, selalu tumbuh kreativitasnya. Tapi banyak orang tak melihat, dan tidak menganggap bahwa unsur-unsurkreativitas ini terdapat dalam kesenian tradisi. Kreativitas hampir selalu diidentikan dengan seni modern, kontemporer, sedangkan “kemandegan” itu-itu saja, diidentikkan dengan kesenian tradisional. Memang kreativitas-kreativitas yang subtil, hanya bisa dikenali oleh orang-orang yang sangat paham atas tradisi bersangkutan. Jadi, disini kita akan temukan perbedaan antara persepsi orang dalam dan orang luar, mengenai derajat kreativitas ini sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai estetika, atau sistem cultural yang spesifik.

Dari persepsi lain, dikotomi orang luar dan orang dalam ini hanya bisa dilihat dari sisi rasial dan genetik, tapi juga dari sisi klas sosial dan profesional, walaupun sama-sama dalam lingkup kesukuannya, tapi perbedaan lingkungan masyarakatnya akan membedakan karakteristik (termasuk pemahaman) budayanya. Dari pemain profesionalnya, musik umpamanya orang luarpun tidak bisa paham dari pada orang dalam yang awam.
I
Karena itu, dalam membicarakan masalah kesenian tradisional itu, kita tidak bisa hanya melihatnya dari satu dimensi saja, tak bisa. Lebih dari itu, selama elemen terkait itu jalin menjalin seperti sarang laba-laba, tak bisa dilepas satu persatu. Dan pada akhir pengkajian, kita bukannya menemukan alternatif-alternatif, memilih yang satu dan membuangnya yang lain, akan tetapi sering berupa paradoks-paradoks, dimana fenomena bertentangan itu, semua punya power negatif dan positif.

KPK Palu, 10 Juni 2027

Alamat Redaksi

Jl. Andi Sammeng lorong pasar Kalola RW/RW : 002/002 Dusun Awotarae Desa, Kalola Kecamatan. Maningpajo Kabupaten Wajo.Provinsi Sulawesi Selatan Kode Pos: 90952

Kontak person
Redaksi@kompaspemburukeadilan.com
0852-5551-4777

Copyright © 2023 Kompaspemburukeadilan.com