Ancaman Bencana dari Hulu ke Hilir, Bawakaraeng–Jeneberang–Bili-Bili Perlu Diwaspadai

Ancaman Bencana dari Hulu ke Hilir, Bawakaraeng–Jeneberang–Bili-Bili Perlu Diwaspadai

WWW.KOMPASPEMBURUKEADILAN.COM

GOWA, — Pengalaman bencana di berbagai wilayah dunia menjadi pengingat penting bahwa dampak bencana di kawasan pegunungan tidak selalu berhenti di lokasi kejadian.

Longsor yang terjadi di kawasan hulu dapat membawa material dalam jumlah besar ke aliran sungai dan bergerak hingga puluhan kilometer menuju wilayah hilir yang memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi.

Kondisi tersebut dinilai relevan untuk menjadi perhatian dalam melihat potensi risiko di kawasan Gunung Bawakaraeng, Sungai Jeneberang hingga Bendungan Bili-Bili.

Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, memiliki pengalaman terkait dampak longsor di kawasan Bawakaraeng. Peristiwa longsor besar yang terjadi pada 2004 membawa material dalam jumlah besar ke sistem Sungai Jeneberang dan turut berdampak terhadap sedimentasi Waduk Bili-Bili.

Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana yang tidak hanya berfokus pada kawasan hulu, tetapi juga memperhitungkan potensi dampaknya terhadap wilayah hilir.

Terlebih lagi, kawasan yang berada di sepanjang aliran Sungai Jeneberang terus berkembang. Kabupaten Gowa mengalami pertumbuhan permukiman dan aktivitas masyarakat, sementara Kota Makassar juga semakin padat.

Dalam kondisi ekstrem, sungai dapat menjadi jalur yang membawa material dari kawasan hulu menuju wilayah hilir.

Karena itu, upaya mitigasi dinilai perlu dilakukan jauh sebelum bencana terjadi. Pemantauan kawasan hulu, kondisi sungai, serta sedimentasi Bendungan Bili-Bili menjadi bagian penting dalam sistem kesiapsiagaan.

Selain itu, sistem peringatan dini perlu diperkuat agar masyarakat dan pemerintah dapat memperoleh informasi lebih cepat apabila terjadi perubahan kondisi yang berpotensi menimbulkan bencana.

Pemetaan kawasan berisiko juga diperlukan, termasuk memastikan ketersediaan jalur dan titik evakuasi yang mudah diakses masyarakat.

Tidak kalah penting, simulasi dan edukasi kebencanaan perlu dilakukan secara berkala dengan melibatkan masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak, khususnya kawasan Gowa hingga Makassar.

Mitigasi bencana juga membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan lintas instansi. Sebab, aliran sungai tidak mengenal batas administrasi pemerintahan.

Material longsor dari kawasan hulu dapat bergerak mengikuti aliran sungai menuju wilayah lain yang berada jauh dari titik awal kejadian.

Karena itu, pengalaman bencana yang pernah terjadi seharusnya menjadi bahan untuk memperkuat kesiapsiagaan, bukan sekadar menjadi catatan evaluasi setelah bencana.

Kesiapsiagaan bukan berarti meramalkan kapan bencana akan terjadi. Namun, memastikan pemerintah dan masyarakat memiliki kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk.

Gunung Bawakaraeng mungkin tidak pernah mengirimkan “notifikasi” sebelum terjadi bencana. Namun tanda-tanda alam dan perubahan kondisi lingkungan harus menjadi perhatian yang dipantau secara serius.

Sebab ketika peringatan datang terlambat, yang bergerak bukan lagi sekadar informasi, melainkan bisa berupa air, lumpur dan material batuan menuju kawasan hilir.

#nurmalMIND

Alamat Redaksi

Jl. Andi Sammeng lorong pasar Kalola RW/RW : 002/002 Dusun Awotarae Desa, Kalola Kecamatan. Maningpajo Kabupaten Wajo.Provinsi Sulawesi Selatan Kode Pos: 90952

Kontak person
Redaksi@kompaspemburukeadilan.com
0852-5551-4777

Copyright © 2023 Kompaspemburukeadilan.com