
Kompaspemburukeadilan.com
Samarinda – Program makan bergizi yang digembar-gemborkan pemerintah sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda, justru berubah menjadi malapetaka. Ribuan siswa di berbagai sekolah dilaporkan keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Lebih dari limah ribu siswa tumbang bersamaan, bukan karnah kelelahan belajar,bukan juga di sebabkan oleh cuaca yang panas tetapi di sebabkan oleh satu hal yang paling ironi yakni makanan bergizi (MBG) yang harusnya memberi energi justru mengantar mereka ke ruang IGD
Menyikapi tragedi ini, Bernadus Mado Belan selaku Presidium Gerakan Masyarakat (GERMAS) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Samarinda mengeluarkan pernyataan sikap keras. PMKRI menilai, kasus keracunan massal ini adalah bukti nyata kelalaian negara dalam menjamin mutu dan keamanan pangan yang diberikan kepada peserta didik.
program makan bergizi andalan pemerinta saat ini justru meracuni ribuan siswa. Ini adalah ironi dan kegagalan besar pemerintah. Kami mendesak agar program makan bergizi segera dievaluasi secara menyeluruh,” tegas GERMAS PMKRI Cabang Samarinda.
PMKRI menyoroti lemahnya sistem pengawasan, dugaan buruknya kualitas bahan pangan, hingga potensi praktik proyek asal jadi yang lebih mementingkan anggaran daripada keselamatan anak-anak.
PMKRI CAB Samarinda menilai, jika pemerintah tidak segera melakukan evaluasi serius, program makan bergizi hanya akan menjadi ajang pencitraan sekaligus ancaman bagi generasi penerus bangsa.
“Generasi muda adalah aset bangsa. Negara tidak boleh bermain-main dengan keselamatan mereka. Jika program ini dibiarkan tanpa evaluasi dan koreksi mendasar, maka yang dipertaruhkan adalah masa depan Indonesia,”
Kasus ribuan siswa yang menjadi korban keracunan ini menjadi pengingat keras bahwa program bergizi tanpa kontrol ketat hanyalah slogan kosong—bahkan bisa berbalik menjadi bencana kesehatan massal.