
Kompaspemburukeadilan.com,
Sastra menjadi salah satu bagian penting dari kesenian yang digarap secara kreatif atas hasil rekaman imajinasi seseorang atau penyair. Ada rekaman tentang keadaan negeri kita yang batuk-batuk akibat selesma krisis buruk moneter. Ada rekaman tentang perkembangan teknologi yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Ada rekaman tentang hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan.
Maka langit Indonesia hampir kelam ditandai dengan reformasi air mata serta gigitan demokrasi berdarah. Boleh jadi yang bukan penyair kecut dalam memandang anak negeri yang kehilangan darah karena kekuasaan budaya yang terus melanda bagian-bagian tertentu dibagian republik ini. Tapi, semua itu menjadi tenaga bagi penyair-penyair daerah khususnya Sulawesi Tengah dan lebih khusus lembah Palu.
Bagi seorang penyair semua kejadian peristiwa yang dialaminya dalam kehidupan ini direkamnya.
Kemudian dengan akal dan dayanya, peristiwa-peristiwa yang direkamnya mengesankan hati dan perasaannya tersebut diusahakan diabadikan.
Ditangan seorang penulis peristiwa-peristiwa tersebut akan berubah menjadi goresan-goresan garis dan warna, ditangan seorang komponis akan berubah menjadi bunyi berirama dan ditangan seorang penyair akan berubah menjadi rangkaian kata-kata (puisi, dialog dalam teater, buku, novel dan lain-lain.
Jadi dengan kata lain, dapatlah dinyatakan bahwa karya seni pada umumnya dan sastra khususnya, tidak lain ialah pengungkap an kembali peristiwa atau kejadian yang terdapat di dalam kehidupan sehari-hari. Sudah barang tentu, kehidupan yang terdapat dalam karya seni (sastra) tersebut tidak sama persis dengan kehidupan dalam alam ini, sebab kehidupan dalam alam ini, sebab kehidupan yang terdapat dalam karya sastra tersebut telah diwarnai pula dengar sikap penyair, latar belakang kehidupan nya, pendidikan nya, pandangan hidupnya dan sebagainya. Itulah sebab nya dari obyek atau materi yang sama sering membuah kan karya sastra yang berlainan mutu dan bobotnya karena lahir dari jiwa penyair yang berbeda-beda.
Sampai hari ini masyarakat masih belum merasakan kegunaan sastra. Baik dalam konteks kehidupan pribadi maupun berbangsa. Alhasil sastra sekedar ditempatkan dalam laci lemari tua yang sesekali dapat dibuka untuk diceritakan kepa anak- anak, selebihnya sastra cuma dinilai sebagai kekayaan tanpa investasi. Benar bahwa manusia sejak kecil diperlihatkan dengan sastra melalui dongeng, cerita kisah atau metodologi yang membungkus daerah. Perkenalan sastra masa kecil ini tidak bisa diteruskan kejenjang yang lebih tinggi, apresiasi misalnya : akibatnya memasuki masa dewasa berarti mengucapkan “Selamat Tinggal” kepada dunia sastra. Logikanya, kedewasaan seseorang identik dengan pencarian sejumlah kedudukan ekonomi, bahkan bergulat dengan dunia sastra yang tidak menjanjikan masa depan.
Sesungguhnya sastra merupakan seni sehingga ia tidak bisa diharapkan memenuhi kebutuhan material manusia akan tetapi sastra berhubungan dengan akal budi, ukuran moral, dan semangat yang tidak akan putus dalam memperjuangkan sebuah arti. Di lembah Palu terdiri atas 14 kelas rumpun etnis yang beraneka ragam kebudayaan dan memiliki ciri khas tersendiri. Hal ini merupakan perhatian khusus bagi kalangan seniman maupun sastrawan untuk terus menggali karya kembangkan serta dilestarikan keberadaannya. Hal ini perlu dipikirkan bersama dan mencari solusi yang tepat untuk mewujudkan suatu koordinasi dari semua pihak merasa dibutuhkan dan dihargai hasil karyanya.
(By Hj
Mas’amah Mufti pegiat literasi)