
ENREKANG
KOMPASPEMBURUKEADILAN.COM
Bencana besar tengah terjadi di atap tertinggi Sulawesi Selatan. Selama lebih dari 20 hari, kebakaran hebat melanda kawasan pegunungan Latimojong, Kabupaten Enrekang, namun luput dari perhatian pemerintah daerah.
Laporan langsung dari lapangan diterima redaksi pada Sabtu, 31 Oktober 2026 dari Nardi Sunardi, pemandu wisata sekaligus relawan yang saat ini masih bertahan di lokasi kebakaran.
Titik api berada di jalur pendakian paling vital, di antara Pos 4, Pos 5, dan Pos 6 pada ketinggian 2.900 Mdpl. Kondisi api saat ini masih terus menyebar dan melahap hutan lumut kering yang tebal dan sangat mudah terbakar.
“Diperkirakan lokasi yang sudah terbakar tidak kurang dari 30 Hektar. Itu baru 1 titik, belum termasuk yang sebelum Pos 2 dan Pos 3,” lapor Nardi Sunardi dari ketinggian 2900 Mdpl via pesan satelit.
Perjuangan Seorang Diri Selama 2 Hari 2 Malam
Perjuangan memadamkan api ini sungguh heroik dan memprihatinkan.
Sebelumnya, pada Kamis 23 Oktober 2026, Nardi bersama personil TNI Koramil Baraka dan warga Dusun Angin-angin naik ke lokasi. Namun medan yang ekstrem membutuhkan waktu 1 hari penuh untuk mencapai titik api. Setelah berhasil memadamkan beberapa titik sebelum Pos 2, tim kelelahan fisik di Pos 3 (2.650 Mdpl) dan memutuskan turun.
Nardi Sunardi menolak turun. Ia melanjutkan perjalanan *seorang diri* ke Pos 5, tempat api masih terus menyala. Ia bertahan sendirian selama *2 hari 2 malam* di tengah kepungan api dan asap, dengan logistik yang menipis.
Karena kondisi fisik dan logistik kritis, ia terpaksa turun dan sempat bertemu langsung dengan Bupati Enrekang, Bapak H. Muh. Yusuf Ritangnga untuk meminta bantuan perbekalan.
Pada Kamis, 29 Oktober 2026, dengan bantuan rekannya Lukman ST dan 2 warga Desa Bone-Bone Dusun Pendokesan, Nardi kembali naik membawa peralatan dan bahan makanan.
Hingga hari ini, Sabtu 31 Oktober 2026, mereka masih berdua di lokasi, berjibaku memadamkan api yang terus menyebar.
Kecaman Keras: Pemda Dianggap Tutup Mata
Dalam laporannya, Nardi Sunardi menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap pemerintah setempat.
“Saya pribadi sangat memahami dengan kondisi fisik, medan, tidak semua orang bisa terjun ke lokasi ini. Tapi yang sangat saya sesalkan dari pemerintah terutama KEC. BARAKA, KEC. BUNTU BATU, dan instansi terkait di Kab. Enrekang, seakan mereka tutup mata dengan kebakaran yang masih berlangsung saat ini.”
“Seakan yang dianggap bencana oleh mereka hanya yang bisa disaksikan oleh masyarakat banyak saat mereka ke lokasi, apalagi saat mereka turun menyerahkan bantuan, dengan kata kemanusiaan, peduli bencana, peduli Enrekang.”
“Kami tidak butuh sanjungan, tapi kami saat ini butuh bantuan tenaga untuk sama-sama kita padamkan api yang masih menyebar,” tegas Nardi.
Kebakaran di hutan lumut pada ketinggian 2900 Mdpl adalah bencana ekologis yang sangat berbahaya. Hutan lumut adalah penyangga air utama bagi 3 kabupaten dan jika terus terbakar, dampaknya akan sangat luas.
Desakan kepada:
1. Bupati Enrekang, BPBD, Dinas Kehutanan, dan Balai TN Babul
2. Camat Baraka dan Camat Buntu Batu
Untuk segera menerjunkan tim gabungan pemadam kebakaran hutan ke titik Pos 4-6 Latimojong.
Laporan Langsung: Nardi Sunardi – Pos Pinjan Pegunungan Latimojong 2900 Mdpl, 31/10/2026
Wakaperwil Sulsel – Colombus