OPINI. Pentingnya Ke Hati Hatian Terhadap Harta Tahta Dan Wanita Bagi Seorang Pemimpin

OPINI. Pentingnya Ke Hati Hatian Terhadap Harta Tahta Dan Wanita Bagi Seorang Pemimpin

Oleh : Muliady Muh Djufri

KompasPemburuKeadilan.com

Pentingnya Kehati hatian terhadap “Harta, Tahta, dan Wanita” dikarenakan ketiganya merujuk pada tiga godaan atau cobaan terbesar dalam kehidupan di dunia , terutama bagi kaum pria, yang berpotensi merusak moral, etika, dan integritas seseorang, khususnya para pemimpin.

Godaan-godaan ini sering dikaitkan dengan kejatuhan individu dan bahkan peradaban dalam sejarah.
Berikut adalah rincian pengertian dari setiap komponen dan bagaimana ketiganya dapat menyebabkan kerusakan:

1.Harta (Kekayaan)
Harta merujuk pada kekayaan materi, uang, dan aset berharga lainnya.
Risiko Kerusakan:
Cinta yang berlebihan terhadap harta (hubbud dun-ya) dapat menimbulkan sifat tamak atau rakus, yang membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk memuaskan keinginannya, termasuk korupsi, penipuan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Bagi seorang pemimpin, hal ini berarti menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri alih-alih melayani masyarakat.

2.Tahta (Kekuasaan/Jabatan)
Tahta melambangkan kedudukan, jabatan tinggi, kekuasaan, dan status sosial yang prestisius.


Risiko Kerusakan: Kekuasaan yang tidak diimbangi dengan integritas dapat menyebabkan arogansi, kesewenang-wenangan, dan gila hormat. Ambisi berlebihan untuk meraih atau mempertahankan tahta dapat mendorong seseorang melakukan politik transaksional, mengkhianati kepercayaan publik, dan menindas lawan politiknya, yang pada akhirnya merusak tatanan sosial dan pemerintahan.

3.Wanita (Pasangan/Hubungan)
Wanita (dalam konteks ungkapan ini, yang sering disalahartikan sebagai objek) merujuk pada godaan hawa nafsu, hubungan terlarang, atau perselingkuhan.
Risiko Kerusakan: Tergoda oleh hubungan di luar nikah atau mengejar kesenangan fisik secara berlebihan dapat merusak keharmonisan rumah tangga, mencoreng reputasi, dan menyebabkan skandal publik. Dalam banyak kasus korupsi, motifnya sering kali terkait dengan keinginan untuk memanjakan pasangan atau simpanan, yang memperparah tindak penyalahgunaan dana yang seharusnya untuk kepentingan rakyat.
Secara keseluruhan, “harta, tahta, dan wanita” menggambarkan ujian moral yang menguji kemampuan seorang pemimpin untuk tetap berpegang pada prinsip kebenaran dan keadilan di tengah godaan duniawi yang kuat. Kegagalan dalam mengelola ketiga aspek ini dengan sikap qonaah (merasa cukup dan menerima apa adanya) dapat membawa kehancuran pribadi dan institusi yang dipimpinnya.

Dan ketika kita melihat fakta dan fenomena saat ini yang harus kita terima sebagai aksioma atau pembenaran mutlak bahwa tak dapat di pungkiri jika respon berlebihan dan tanpa pengendalian diri terhadap godaan Harta ,Tahta dan Wanita, bagi seorang pemimpin, maka, popularitas dan kewibawaan serta ketenaran yang tadinya berada di puncak,tiba tiba runtuh dan hancur berkeping keping di tambah hujatan dan cacian dari masyarakat yang sulit untuk mereka lupakan dalam sesaat dan ibarat “Panas Setahun Hanya di Hapus Oleh Hujan Sehari” hingga penting sekali bagi seorang pemimpin untuk senantiasa penuh kehati hatian dalam memahami eksistensi Harta,Tahta dan Wanita dalam berkehidupan.
(Penulis Adalah Pimpinan Umum/Pimpinan Redaksi Media Kompas Pemburu Keadilan)

Alamat Redaksi

Jl. Andi Sammeng lorong pasar Kalola RW/RW : 002/002 Dusun Awotarae Desa, Kalola Kecamatan. Maningpajo Kabupaten Wajo.Provinsi Sulawesi Selatan Kode Pos: 90952

Kontak person
Redaksi@kompaspemburukeadilan.com
0852-5551-4777

Copyright © 2023 Kompaspemburukeadilan.com