Wakil Menteri PPPA Veronica Tan akan Hadir Sebagai Pembicara Dalam Peluncuran Buku Antologi Puisi dan Cerpen Kepak Sayap Bunda “Anak Merah Putih tak Takut Masalah”

Wakil Menteri PPPA Veronica Tan akan Hadir Sebagai Pembicara Dalam Peluncuran Buku Antologi Puisi dan Cerpen Kepak Sayap Bunda “Anak Merah Putih tak Takut Masalah”

kompaspemburukeadilan.com – Jakarta, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, akan hadir sebagai salah satu pembicara dalam acara sastra peluncuran buku antologi puisi dan cerpen bertema Kepak Sayap Bunda “Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah“.

Bersama Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin, Gedung Panjang Ali Sadikin Lantai 4 di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Senin siang (22/12/2025). Dimana acara akan berlangsung mulai pukul 14.00 sampai selesai.

Demikian dikatakan oleh Octavianus Masheka , Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) kepada wartawan di Jakarta, pada Senin pagi (15/12/2025).

Menurutnya, pada 2021, Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati (Bintang Puspayoga) memberikan kata sambutan dalam buku antologi puisi bersama “93 Penyair Membaca Ibu”.

Sedangkan pada 2024,Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan memberikan kata sambutan untuk buku antologi puisi bersama 96 Penyair membaca ibu “Ibu Aku Anakmu”.

“Dan kembali di tahun 2025 ini Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Veronica Tan, memberikan Kata Sambutan untuk buku antologi puisi bersama “Kepak Sayap Bunda, Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah”.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Veronica Tan, atas peran sertanya yang sangat besar terhadap penerbitan buku. Ini adalah sebuah bukti bahwa Kementerian PPPA mempunyai perhatian yang besar terhadap permasalahan ibu dan anak yang diekspresikan dalam karya sastra,” ujar Bung Octa –panggilan akrabnya– melalui saluran telepon seluler.

Kepada sekitar 190 penyair –dari berbagai daerah di Indonesia– yang ikut berkontribusi mengirim naskah puisi serta sekitar 90 cerpenis mengirim karyanya di dalam buku antologi puisi dan cerpen ini menandakan bahwa penyair dan cerpenis, mempunyai perhatian kepada permasalahan ibu dan anak.

“Kami juga ucapkan banyak terima kasih kepada, Dyah N Kusuma, Erndra Acha, sebagai panitia penerima naskah. Kemudian kepada kurator Andi Mahrus, Fanny Jonathan Poyk, Kurnia Effendi, dan Sofyan RH Zaid. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih,” pungkasnya.

Jangan lupa, bagi yang dapat menghadiri acara ini, maka ada doorprize, berupa ” Buku dan uang Tunai ” Yang menjadi ciri khas dari setiap kegiatan TISI.

Para Pembaca Puisi

Dalam acara sastra bersama TISI –di ujung akhir tahun 2025 ini– akan tampil pula pembicara Reza Indragiri, dan sambutan Nasruddin Djoko Surjono (Kadispusip DKI), dengan moderator acara Swary Utami Dewi.

Sementara para pembaca puisi antara lain Nunung Noor El Niel (Bali), Rissa Churria (Bekasi), Fanny Jonathans Poyk (Depok), Jamal Rahman Iroth (Bolaang Mongondow Sulut), Farin Nisa (Yogjakarta), Indar (Jakarta), Nurhayati (Bekasi), Ferlynda Natasya Andreana (Jakarta), Kurnia Effendi (Jakarta), serta Rinidi Yanti Ayahbi (Depok).

 

Sebagai kata penutup, dikutip 2 puisi berjudul :

SEPI 22

Karya: Octavianus Masheka

ibu,
membaca dirimu
adalah membaca bentangan sejarah cinta kasih sayang tak bertepi
bagai gelora laut biru dalam tak terukur
bagai sepoi angin menyapa tiada henti.

kesetiaan
merawat dan membesarkan
hingga tumbuh berkembang
adalah wujud janjimu
walau sakit duri kehidupan
menghadirkan nanah dan luka darah
menyakiti jiwa raga
kau tetap tegar melangkah

tak lekang karena panas
tak lapuk karena hujan
abadi sepanjang masa

sepi
beri aku air
pembasuh kaki ibu
aku minum
sebagai anggur kesejukan jiwa

Tangerang, 16.11.21.

RUMAH YANG MENYIMPAN GEMURUH

Karya Husni Hamisi

1/

Di rumah itu
senja selalu merayap di dinding,
meja makan, juga kamar tidur
seolah matahari enggan menyaksikan
apa yang disembunyikan.

Seorang anak jongkok
di ujung lorong memeluk lututnya
seperti menggenggam ayat yang terlupakan.

Ia menatap gagang sapu, sepatu, gayung
plastik dan galon kosong yang menjadi saksi
bagaimana ketakutan menetes tanpa suara.

Kadang ia berbisik kepada angin
hampir tak terdengarkan

“Apakah bayangku boleh
sembunyi di balik bayang yang lain?”

2/

angin hinggap di jendela
membawa aroma ruang tamu
yang selalu menjelma medan badai.

Di langit-langit
lampu menggantung seperti bulan kecil
ia lelah menyaksikan amarah dipukul-kan
ke tubuh yang belum selesai tumbuh.

Pada malam-malam berhujan
anak itu kadang bermimpi
dadanya adalah gua
dan Tuhan menyalakan lilin di dalamnya.

Namun tatkala ia terbangun
suara langkah berat menghapus nyala
di hatinya satu per satu.

Ia ingin berlari
namun seluruh lorong yang ada
terbuat dari detak jantungnya sendiri.

Ia pun terduduk disudut
membiarkan mata kecilnya
menjadi sungai mencari jalan pulang.

3/

Pada sebuah malam paling temaram
kami melihat siluet anak itu
berdiri di depan cermin.
Menyentuh wajah
yang mulai ia kenali
bukan sebagai korban
melainkan sebagai seorang
yang memiliki sisa cahaya kandil
sebab kami tak lelah meniup desir sunyi:

“Tuhan, jadikan tubuh kecilnya
tempat Engkau berdiam
agar amarah kehilangan pintunya.
Tak ada lagi tangan gelap
berani masuk mengetuknya.”

Hari-hari pun mengupas diri
sekalipun rumah itu tetap berdiri
untuk pertama kalinya kami menyaksikan
bayangan anak itu berjalan lebih lapang
dari seluruh lampu yang pernah dipadamkan.

.Utan Panjang, 2025

Alamat Redaksi

Jl. Andi Sammeng lorong pasar Kalola RW/RW : 002/002 Dusun Awotarae Desa, Kalola Kecamatan. Maningpajo Kabupaten Wajo.Provinsi Sulawesi Selatan Kode Pos: 90952

Kontak person
Redaksi@kompaspemburukeadilan.com
0852-5551-4777

Copyright © 2023 Kompaspemburukeadilan.com